Selasa, 08 Februari 2011

LAUNCHING ALBUM TRISUM

Trisum Gelar Konser di Café Rolling Stone

- Luncurkan Album 2, “FIVE IN ONE”

EVENT tahunan musik jazz terbesar di Indonesia, Java Jazz, sebentar lagi akan digelar di Jakarta. Puluhan musisi jazz nasional dan internasional akan tampil dalam festival yang tercatat sebagai salah satu event musik terbesar dalam agenda musik dunia itu. Nama-nama beken seperti Santana, George Benson, Joey Defrancesco, dan Kenny Loggins telah memberikan konfirmasinya untuk tampil. Bagi para pecinta jazz, tanggal 4,5, dan 6 Maret 2011 pastilah telah ditandai sebagai jadwal yang tidak boleh dilewatkan.

Balawan,Indro,Budjana,Echa,Tohpati
Tapi sebelum itu, kami ingin mengajak Anda melakukan pemanasan dengan menyaksikan penampilan Trisum, dan merasakan sihir tiga gitaris jazz terbaik di Indonesia, Dewa Budjana, Tohpati, dan Balawan. Trisum akan tampil di Café Rolling Stone, Jl. Ampera No. 16 Jakarta Selatan pada 18 Februari 2011. Dalam konser tunggal, yang sekaligus ajang peluncuran album baru itu, Trisum akan diperkuat oleh Indro Harjodikoro (bass), dan Echa (drum). Formasi ini juga yang mengisi seluruh album yang diberi judul “Five in One”. Boleh jadi nama album berasal dari formasi yang berlima itu, formasi inti.

Dibanding album sebelumya, 1-th Edition, ada sedikit perubahan formasi. Jika di album pertama pemain drumnya Sandy Winarta, sekarang Echa. Distributornya juga berganti, dari Sony-BMG menjadi Universal Music Indonesia. Selebihnya sama, bahkan tema gambar cover albumnyapun sama, yaitu gambar tiga gitar Budjana, Tohpati, dan Balawan yang berdiri berjajar. Memang ada sedikit perubahan, jika pada 1-th Edition, gambar gitar berupa foto natural, pada Five in One, gitarnya berbentuk grafis dengan tarikan garis warna-warni.

Di album baru ada 9 komposisi lagu, 1. Five in One, 2. Love to be Around You, 3. Rahwana, 4. Pulang, 5. Majik Blue, 6. Unyil, 7. All U Can Eat, 8. Bread Jam Bread, dan 9. Bubis. Tohpati menyumbang 3 lagu (1, 3, dan 4), Budjana 2 (5 dan 9), Balawan 2 (2 dan 7), Indro 1 (8), dan satu, Unyil, adalah ciptaan Pak Raden yang publishernya Produksi Film Negara (PFN), sama dengan filmnya.

Sebagai catatan, di album ini untuk pertamakalinya Indro Harjodikoro menyumbangkan komposisinya yang berjudul Bread Jam Bread. Saya sendiri membayangkan inspirasi ini berasal dari sarapan pagi yang sering kali dihadapi Indro, roti dan selai. Indro sendiri telah memili album solo berjudul Feels Free yang diproduksi dan diedarkan oleh Demajors. Sementara itu, seperti judulnya “Bubis”, Budjana dalam lagu ini ingin memberikan penghargaannya pada pianis jazz senior, asal Surabaya, Buhi Chan.

Sebenarnya album ini telah siap sejak November tahun lalu, tapi peluncurannya baru dilakukan bisa dilakukan bulan Februari ini karena, kami dari POS Entertainmen, selaku eksekutif produser, harus bolak-balik ke PFN mengurus izin penggunaan lagu yang popular melalui film anak-anak Si Unyil itu. Kami harus memastikan ada masalah dikemudian hari.

Kumpulan yang Unik

Trisum, FIVE IN ONE
Formasi 3 gitar ini pertama kali ditemukan tahun 2005 oleh Dhani Pette. Gagasan untuk menggabungkan tiga atau lebih gitaris sebenarnya bukan suatu yang baru, banyak orang yang telah melakukannya, tapi dalam Trisum penggabungan ini menjadi suatu yang spesial. Portofolio dan latarbelakang personil masing-masing personilnya sangat beragam dan mengesankan. Mungkin ini yang membuat musik Triusm menjadi kaya. Mari kita lihat mereka satu-persatu.

Dewa Budjana. Siapa yang tidak kenal dengan gitaris Gigi ini? Selama berkiprah di Gigi yang hampir memasuki usia 17 tahun, puluhan lagu telah diciptakan Budjana, semuanya pop/rock, dan beberapa di antaranya sukses di pasar. Meski demikian tidak bisa dimungkiri jika akar permainan gitar Budjana adalah jazz. Jazz ibarat cinta pertama Budjana yang tidak bisa dilupakannya, bahkan mungkin ini cina sejati Budjana.

Di ranah musik jazz, Budjana bukan cuma manggung dan nge-jam sana-sini, ia telah menghasilkan 4 album solo, Nusa Damai, Gitarku, Samsara, dan Home, dan saat ini tengah menyelesaikan album kelimanya.

Tohpati juga banyak menciptakan lagu pop yang berhasil mengorbitkan banyak penyanyi. Karena kepiawaiannya ini banyak penyanyi baik yang baru maupun yang telah punya nama meminta dibuatkan lagu. Tapi kemampuannya bukan cuma itu, Tohpati juga jago mengaransemen. Sony Music adalah salah satu label yang banyak menggunakan jasa Tohpati sebagai arranger.

Empat album solo jazz Tohpati adalah; Tohpati, Serampang Samba, It’s Time, dan Ethnomission. Yang terkahir ini –seperti namanya- mengandung unsur etnik yang kental.

Lalu bagaimana dengan I Wayan Balawan? Seperti dua senior mereka, Balawan juga memiliki album solo, yaitu Globalism dan album self title Balawan. Sebelum memainkan jazz, Balawan mengaku menyukai lagu rock klasik. Pilihannya tidak salah, melalui jazz inilah nama Balawan terus berkibar.

Pria kelahiran Gianyar Bali 1973 ini juga memiliki grup musik bernama Batuan Ethnic yang memadukan unsur musik modern dengan musik tradisional Bali.

“Saya melihat ketiga gitaris ini unik, masing-masing memiliki ciri khas yang jika digabungkan bisa saling melengkapi. Budjana misalnya, sound gitarnya kaya dan pilihan nada melayang-layang. Sementara Tohpati teknik bermainnya sangat rapi, termasuk saat mamainkan suara distorsi, pendeknya perfect. Balawan mainnya kasar dan gaya tapping-10 jarinya sangat atraktif, banyak orang suka dengan teknik ini,” kata Dhani Pette.

Dari pengamatannya itu, Dhani mencoba menjajaki kemungkinan untuk menyatukan ketiganya dalam satu formasi tiga gitaris jazz. Walaupun Dhani menyadari bahwa mereka memiliki kegiatan pribadi yang luar biasa padat, akhirnya Trisum bisa diwujudkan. “Waktu itu pertengahan 2005 dan Trisum belum memiliki album. Tapi -itulah enaknya bekerja dengan para ahli- mereka punya simpanan lagu."

Dengan modal lagu masing-masing itulah konser tunggal Trisum digelar, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, 29 Desember 2005. Konser ini sukses, GBB penuh. Kesuksesan ini menarik perhatian Djarum Super, yang kemudian mensponsori tur Trisum ke 6 kota di Jawa (malang, Surabaya, Jogja, Semarang, Bandung, dan Jakarta) pada Maret – April 2006.

Setelah itu Trisum banyak diundang pada event-event jazz, bahkan tampil di acara peluncuran mobil BMW dan di pameran otomotif di JCC. Dalam penampilannya di panggung, selain formasi inti, Trisum kadang mengajak beberapa musisi lain, seperti Saat Borneo (suling), Jalu Pratidina (kendang), Eugene Bounty (brass), serta beberapa musisi jazz yang lain. Dalam beberapa kesempatan, saat Balawan tidak bisa tampil berhalangan, posisi gitar-3 digantikan Henrry Lamiri (biola), atau Donny Suhendra (gitar).

Secara teknis, tidak ada kesulitan berarti dalam memproduksi album Trisum maupun saat manggung. Satu-satunya kesulitan yang kami hadapi adalah padanya jadwal Budjana, Tohpati, dan Balawan. Begitu juga dengan Indro dan Echa. “Mereka ini orang-orang yang super sibuk. Saya jadi seperti Hanibal dalam The A Team, jika ada projek mereka saya telepon satu-persatu untuk kumpul,” kata Dhani.

Konser di Café Rolling Stone ini, misalnya, terpaksa dilakukan tanggal 18 Februari sebab Balawan akan berangkat ke Amerika Serikat tgl 20 Februari, untuk menjalani menjalani tur keliling Amerika. (son andries/POSe)



Catatan:
Tiket konser tunggal Trisum Rp 150.000,- bisa dipesan di kantor majalah Rooling Stone, atau di kantor POS Entertainmen




Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150135816636189&id=1015995304&ref=mf

2 komentar: